Search by category:
Info Publikasi Media

Sketsa yang Akan Jadi Nostalgia

Kuas itu menari-nari di atas kertas sketsa. Bulunya yang halus menyapukan warna-warna yang memperindah suasana Pasar Krempyeng Jetis, Sidoarjo, Sabtu (18/6).

Begitulah cara ngabuburit kolaborasi Komunitas Perupa Delta (Komperta) dan Sketsapora. Mereka ingin memotret suasana khas Pasar Krempyeng dalam karya sketsa.

Dua anggota Komperta, Juniarto, 45, dan Yoes Wibowo, 43, mengolaborasikan aksi sketch on the spot itu dengan komunitas Sketsapora.

Mereka bersanding dengan Zainudin, 43; Wahyu Sigit, 36; dan Indra Jeneb, 36; sebagai wakil seniman pencinta sketsa yang berkumpul dalam Sketsapora.

Para perupa itu menggelar studio dadakan di depan sebuah toko kacamata yang tepat menghadap ke Pasar Krempyeng. Masjid Al Abror berdiri megah di bagian kiri pemandangan.

Pasar Krempyeng tepat lurus di bagian tengah. Sementara itu, menara tua yang dulu menjadi fasilitas pengairan di bagian kanan menyempurnakan panorama sore itu.

Hiruk pikuk, warga yang bercengkerama, lalu-lalang kendaraan, aktivitas perdagangan, hingga anak-anak yang berlarian terekam dalam guratan yang mereka ciptakan.

Lima seniman tersebut ingin membuahkan karya seni yang beraliran realis. Karena itu, mereka memilih sketsa.

’’Sketsa itu kuncinya di realis. Asli, nyata, ada,’’ kata Juniarto yang juga mengetuai Komperta.

’’Pada dasarnya, kekuatan hasil sketsa terletak pada sesempurna apa suasana yang terekam, tanpa perlu detail,’’ tambah Yoes yang juga mendobel peran sebagai anggota Sketsapora.

Salah satu teknik penting yang harus dikuasai dalam sketsa adalah pemilihan objek. Begitu fokus objek yang akan dipotret sudah ditetapkan, itulah yang dipakai.

Seniman sketsa harus mampu merekam gambaran tersebut dalam memori mereka juga. Jika beberapa menit banyak keadaan yang berubah, fokus objek utamalah yang tetap dipakai.

Juniarto menyebut sketsa sebagai seni menangkap panorama dengan cepat. Meski menggunakan aliran realis dalam menggambar sebuah sketsa di tempat yang sama, karya yang jadi output tetap akan berbeda.

’’Sketsa ini juga menggambarkan ketertarikan pelukisnya,’’ ucap Pakdhe Yoes, panggilan akrab Yoes, sambil memulaskan warna biru ke bagian gambar pasar di atas water colour paper miliknya.

Meski sama-sama memotret secara utuh bangunan Masjid Al Abror, Pasar Krempyeng, dan menara air di sekitar Jetis, kenyataannya, sudut pandang yang diciptakan kelima seniman begitu beragam.

Juniarto lebih mempertontonkan suasana Pasar Krempyeng yang sempit diapit dua bangunan megah di kanan dan kiri.

Sigit memilih melihat kedalaman pasar serta aktivitas jual beli yang dipadu dengan warna matahari senja dari ujung jalan.

Sementara itu, Indra lebih memilih memperbesar objek para tukang becak yang mangkal di area pasar.

Selanjutnya, Udin, sapaan akrab Zainudin, mencoba mengaplikasikan sketsa beraroma kepadatan pasar di atas kertas merang.

Kegiatan ngabuburit bareng Komperta dan Sketsapora sambil sketch on the spot itu merupakan rangkaian rencana besar seniman sketsa Sidoarjo.

’’Kami punya rencana pameran seribu sketsa untuk Sidoarjo,’’ ungkap Pakdhe Yoes. Dia mengungkapkan, para seniman sketsa Sidoarjo akan mengeksplorasi tempat-tempat yang layak disketsakan.

’’Dua hari lalau di Pasar Larangan dan sekarang di sini,’’ tambahnya. Mereka ingin mengampanyekan kecintaan akan Kota Delta melalui seni.

Terlebih Pasar Krempyeng yang segera dibersihkan dan dialihkan ke bekas gedung Mal Matahari Jetis.

’’Suatu saat sketsa-sketsa ini bakal jadi nostalgia. Gak ada lagi suasana Pasar Krempyeng di luaran begini,’’ ucap Juniarto sambil memandangi hasil sketsanya yang sudah dibubuhi warna abu-abu dengan teknik pewarnaan cat air. (via/c5/dos/sep/JPG)

SUMBER : JAWA POS
FOTO : KOLEKSI Ian Wongkar

Post Comment